Retreat Anak SD Kelas Enam 2009

Lokasi : Kalinangka, Kulon Progo

Peserta: 69 anak (dari target 75 anak)

Pendamping: Ibu Maria Onk—Guru Happy Holly Kids (Pembicara dua sessi), Fasilitator mahasiswa dari berbagai universitas, Guru-guru di SD Bopkri Kalinangka, SD Bopkri Palihan, SD Bopkri Gunungijo, dan SDK Plampang

Sekolah terlibat: SD Bopkri Pranti (Bantul), SD Bopkri Sidomulyo 1 dan 2 (Sleman), SD Bopkri Temon, SD Bopkri Kalinangka, SD Bopkri Palihan, SD Kristen Widodo Plampang

Anak-anak kelas 6 sudah menyelesaikan semua tugasnya dalam belajar secara formal di sekolah sejak bulan Mei lalu. Demikian pula yang terjadi terhadap anak-anak Beasiswa dampingan kita. Sebagai bagian dari pendampingan kepada mereka, seperti biasa tahun ini kami mengadakan retreat untuk anak-anak kelas enam ini. Mempersiapkan mereka menghadapi masa remaja dan memberi motivasi agar mereka melanjutkan sekolahnya—beberapa diantara mereka memang enggan bersekolah lagi dan lebih suka bermain di rumah.

Untuk itu disusun suatu acara yang mengajak anak-anak menyadari bahwa mereka diciptakan unik dan khusus oleh Tuhan untuk menghadapi hidup ini. Anak-anak juga dibukakan berbagai talenta dan bakat mereka lewat berbagai permaianan—membuat menara dari sedotan, menuliskan cita-cita, merengkuh cita-cita—anak-anak diminta bekerja sama mengambil cita-cita yg sudah ditulis di tempat yang cukup jauh dari jangkauan tangan, dan berbagai permainan kerjasama.

Kegiatan dibagi menjadi dua kegiatan utama yaitu ceramah di sore dan malam hari serta outbond di pagi siang harinya. Semua dijalankan dengan penuh permainan.
Tema yang merangkai kegiatan ini adalah : Kempompong Menjadi Kupu-Kupu. Perubahan dari Kepompong menjadi Kupu-Kupu dijadikan semacam lambang bagi anak-anak dalam mereka berproses menjadi manusia yang lebih dewasa. Pada saatnya mereka akan menjadi pribadi yang indah, kuat, pantang menyerah, dan siap terbang menghadapi dunia ini. Tapi mereka tidak sendirian di dunia ini, ada banyak orang dan anak yang juga siap terbang menghadapi dunia, karena itu mereka diajak untuk bersahabat dan bekerjasama untuk hari depan yang lebih baik. Penekanan bahwa mereka ciptaan Tuhan yang pengasih menjadi bagian penting di sini. Tuhan akan sangat berperan dalam kehidupan mereka nanti karena itu mereka diajak selalu bergantung kepadaNya.

Begitulah anak-anak bergembria dalam kegiatan ini dan belajar dari berbagai aktivitas yang ada. Perpaduan fasilitator mahasiswa dari berbagai universitas di Jogja dan guru-guru menjadi komunitas yang membuat anak-anak bisa belajar lebih banyak hal. Hal ini bisa terjadi karena mereka terbagi dalam beberapa kelompok yang didampingi para fasilitator yang siap diajak berdiskusi.

Minggu ini tanggal 20 Juni 2009, Retreat ini diadakan juga untuk anak-anak di Gunung Kidul.

Retreat 1

Retreat 2

Retreat 3

Pertanian Organik

Melayani anak-anak di pelayanan beasiswa, tidak hanya berkutat kepada memberikan pendampingan kepada anak-anak. Dalam kenyataannya, berbagai permasalahan ternyata sangat erat saling berkait. Baik itu permalasahan kemiskinan, kesehatan, karakter, maupun lemahnya sumber daya manusia. Ketidakmampuan belajar anak-anak seringkali berkait erat dengan rendahnya daya dukung orang tua dalam kegiatan belajar mengajar. Kondisi ekonomi sering membuat orang tua tidak peduli dengan proses belajar mengajar anak-anak. Di sisi lain, performa belajar juga sangat berkait dengan kesehatan anak-anak—karena itulah kami mengupayakan pelayanan kesehatan dan sanggar.

Tapi kami juga melihat ada banyak tanah yang belum tergarap, ada banyak pekarangan rumah yang belum terjamah dengan baik. Peluang nampaknya belum tergarap dengan maksimal. Ada banyak juga ketrampilan yang belum tereksplorasi dengan maksimal.

Kami melihat perlunya mengajak orang tua siswa untuk tidak hanya berdiam diri dan pasrah saja dengan keadaan saat ini.

Sejak satu setengah tahun lalu kami mulai mengajak beberapa orang tua anak beasiswa untuk mencoba melihat berbagai kemungkinan pemanfaatan potensi lokal mereka. Kami membentuk beberapa kelompok dan mengadakan uji coba berbagai kegiatan yang sifatnya mengajak mereka memahami potensi yang ada. Akhirnya kami mengambil salah satu bentuk pemberdayaan dengan mengajak mereka membuat kelompok tani organik. Idenya sederhana saja, kami ingin memaksimalkan pekarangan yang kami lihat banyak terbengkelai dengan berbagai sayuran untuk memenuhi gizi keluarga. Harapannya hal ini akan ikut mendukung gizi para anak-anak beasiswa kita. Syukur-syukur nanti bisa menghasilkan.

Pertanian organik kami ambil sebagai metode utama mengingat pertanian ini disamping mudah dijalankan—karena tidak perlu membeli pupuk pabrik dan murni menggunakan pupuk alam—juga punya dampak memperbaiki keadaan tanah dan lingkungan. Walau harus diakui cukup sulit juga mengubah cara bertani dengan pupuk pabrik menjadi tanpa pupuk pabrik.

Saat ini telah ada 3 kelompok tani yang berjalan dengan cukup baik dan sudah dua kali menanam dan dituai hasilnya. Selain itu ada 4 keluarga mandiri yang juga memulai menanam dengan model pertanian organik ini. Setiap minggu mereka bertemu dan mengadakan beberapa diskusi untuk memperkokoh kelompok mereka. Perlahan kelompok ini memperlihatkan bentuknya dan bergulir menular kepada yang lain. Harapannya nanti tempat-tempat menanam ini juga akan menjadi tempat belajar anak-anak beasiswa dalam menghadapi hidup.
Kegiatan bersama terakhir yang meraka lakukan: mereka mengadakan workshop pertanian organik dengan mengundang beberapa Gereja Lokal. Sambutannya cukup baik dan ternyata ada beberapa Gereja Lokal yang mulai tertarik dengan pertanian organik ini. Mudah-mudahan benih kecil ini makin meluas, menajdi berkat buat anak-anak, dan makin memberkati bumi kita. Doakan.

Pertanian 1

Pertanian 2

Pertanian 3

Intermezo:Tanda Tangan Berbeda

Siang itu kami mendapat kabar dari salah seorang donatur kalau beliau menerima surat dengan nama anak sama tapi tanda tangan berbeda. Wah aneh juga, pikiran kami segera berpraduga ke mana-mana: jangan-jangan bukan anaknya yang nulis, jangan-jangan dituliskan Gurunya, jangan-jangan..begitulah…kami berpraduga macam-macam.

Akhirnya untuk memastikan kejadian sesungguhnya kami pergi menemui anak-anak tersebut. kami print tanda tangan mereka dan akan kami tunjukkan kepada mereka. Untung sebagian ada di satu daerah. Maka setelah bersusah susah turun naik bukit ketemulah kami dengan anak-anak tersebut. Jawaban mereka cukup mengejutkan dan juga menyegarkan karena membuat kami tertawa bersama, “Memang itu tanda tangan kami semua Mas…kami memang sering ganti-ganti tanda tangan…”

Ternyata, setelah kami kroscek juga dengan guru serta sekolah, anak-anak memang sangat sering berganti tanda tangan. Mereka bahkan kadang berlomba membuat tanda tangan paling unik. Baru setelah mereka kelas 3 SMP, biasanya tanda tangan mereka akan tetap. Salah seorang guru menghubungkan hal ini dengan masa perkembangan remaja yang sedang mencari jati diri.

Begitulah, ketika kami keliling ke beberapa tempat lain, ternyata memang anak-anak senang berganti tanda tangan. He..he..

Salam

Tanda Tangan Ajaib